“In the back of my mind, deep in the recesses, where the
Djinn can’t seem to reach, I know this is irrational, stupid, crazy. I know
just thinking about death won’t cause my mother to die. I know that books on a
shelf won’t stop her from dying, no matter how I arrange them. But every time I
try to stop myself, a cold, creeping dread envelops my entire body.”
- Melati, The Weight of Our Sky
Kalian pasti pernah bertanya-tanya: sebenarnya apa, sih, yang dipikirkan pengidap penyakit
mental? Apa yang dirasakan pengidap Obsessive
Compulsive Disorder (OCD)? Kenapa penyakit mental bisa mengancam nyawa?
Sama seperti kalian, aku juga sering melemparkan
pertanyaan-pertanyaan di atas kepada diri sendiri. Bahkan, aku pernah meyakini
diri sebagai pengidap Obsessive
Compulsive Disorder (OCD) hanya karena menyukai kerapian dan menyusun buku
berdasarkan warna.
Untungnya, aku bertemu novel berjudul The Weight of Our Sky.
Buku dalam bahasa Inggris ini berhasil mengubah sudut pandangku terhadap
gangguan mental. Buku ini mengajarkanku bahwa OCD bukan hanya obsesi untuk
melakukan sesuatu, tapi juga gangguan kecemasan yang menggerogoti pengidapnya. Dan,
dari buku ini aku sadar bahwa penyakit mental tidak semudah yang tertulis di
internet.
Sinopsis The Weight of Our Sky
The Weight of Our Sky bercerita tentang seorang remaja Malaysia
bernama Melati yang selalu membayangkan kematian ibunya. Untuk mengusir
bayangan itu, dia selalu mengikuti permintaan Djinn—setan yang bersemayam di dalam kepala Melati. Menurut Djinn, ibu akan
baik-baik saja jika Melati merapikan lemari buku, memastikan semua perabotan rumah
berada di tempat yang aman, dan mengetuk setiap benda sebanyak kelipatan tiga
sebagai mantra keselamatan.
Suatu hari, kerisuhan terjadi di Malaysia: orang-orang dari
ras Cina dan ras Melayu saling menyerang, bangunan-bangunan rusak parah, dan
warga-warga tak bersalah harus mati di tengah kericuhan. Melati yang terjebak
dalam kerusuhan itu sangat panik dan cemas membayangkan keselamatan ibunya yang
terpisah jauh dari dia. Untuk menemukan sang ibu, Melati rela menerjang kekacauan
sambil mengikuti perintah Djinn.
Mengenal Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Menurut Alodokter, OCD adalah salah satu gangguan mental
yang membuat seseorang melakukan sesuatu secara berulang karena ingin
menghindari kecemasannya. Seorang pengidap OCD tahu bahwa rasa cemas dan
tindakan berulang yang mereka lakukan itu tidak sehat, tapi mereka tidak bisa
menghentikan diri.
Contohnya adalah Melati dalam buku The Weight of Our Sky.
Melati selalu cemas karena tidak bisa mengenyahkan bayangan ibunya meninggal dunia.
Untuk menenangkan diri, Melati selalu mengecek pintu, jendela, kompor, dan
memastikan setiap perabotan rumah tidak mengancam nyawa sang ibu. Selain itu,
Melati akan mengetuk benda-benda di sekitarnya dengan kelipatan tiga. Semakin
cemas Melati, maka semakin sering dia mengetuk benda dengan kelipatan tiga.
Pandangan Masyarakat Terhadap Penyakit Mental
Ada satu bagian dalam novel The Weight of Our Sky yang menarik
perhatianku, yaitu bagian ketika Melati dianggap aneh oleh keluarga besarnya karena
memiliki gangguan mental. Melati dibilang kurang beribadah sehingga dirasuki
Djinn—makhluk tak kasatmata dalam Islam yang sering dianggap jahat. Oleh
keluarga besarnya, Melati dipaksa mendatangi pemuka agama untuk mengeluarkan
Djinn dan, tenta saja, gagal.
Sebenarnya, anggapan penyebab penyakit mental adalah kurang
beribadah masih sering kita temukan di tengah masyarakat. Seolah-olah, semua
orang yang memiliki gangguan jiwa pasti jauh dari Tuhan. Tapi, apakah benar
begitu?
Dari akun Tiktok seorang psikiater @dr.zulvia.syarif.spkj, aku
menemukan jawabannya. Menurut beliau, seseorang mengidap penyakit mental bukan
hanya karena satu alasan melainkan beberapa faktor, seperti genetik, perubahan
neurokimiawi pada otak sehingga menyebabkan adanya gangguan transfer sinyal di
otak, hormonal, psikologis (menjadi korban bully,
pernah mengalami abuse, dan
lain-lain), faktor sosial (masalah relasi, masalah rumah tangga, dan masalah
finansial), dan sebagainya. Jika beberapa faktor tersebut menjadi satu, maka
seseorang bisa terkena gangguan jiwa.
Jadi, berhenti bilang alasan mengidap penyakit mental adalah
kurang beribadah. Oke?
Kericuhan Rasial Malaysia yang Memakan Banyak Korban
Ketika membaca The Weight of Our Sky, ada beberapa hal yang
menggelitik rasa penasaranku. Apakah Hanna Alkaf, penulis The Weight of Our
Sky, mengarang latar kericuhan dalam buku? Kenapa Hanna Alkaf mengambil latar
yang sensitif?
Kemudian, aku mencoba mencari tahu tentang kericuhan rasial
Malaysia dan menemukan jawabannya di sini. Kerisuhan rasial dalam novel
The Weight of Our Sky memang terjadi di Malaysia pada 13 Mei 1969. Saat itu,
ras Cina dan ras Melayu saling bertengkar karena masalah politik. Akibatnya bangunan-bangunan
hancur, banyak orang terluka, dan warga sipil ikut mati mengenaskan. Bahkan
kejadian yang mengguncang Malaysia ini sempat menjadi sorotan dunia
internasional.
Namun, meski mengambil latar yang sensitif Hanna Alkaf
berhasil meramu cerita dengan baik. Penulis tidak hanya membantu pembaca menyadari
akan kesehatan mental, tapi juga toleransi antarmanusia. Hal ini bisa dilihat
dari kisah Melati, remaja ras Melayu, yang bertemu orang-orang dari berbagai
ras selama pencarian ibunya di tengah kericuhan 13 Mei 1969.
The Weight of Our Sky, Sebuah Buku yang Layak Dibaca
Sejak beberapa tahun lalu, aku sudah merasa tertarik dengan
buku-buku khususnya novel yang membahas kesehatan mental. Sayangnya, hanya
segelintir novel yang menurutku berhasil mengangkat tema berat ini. Dan, salah
satunya adalah The Weight of Our Sky.
Untuk kalian yang memiliki ketertarikan sama denganku dan
sedang mencari novel kesehatan mental, aku merekomendasikan buku ini. Namun,
aku menyarankan kalian untuk membaca buku ini saat dalam kondisi baik karena
pikiran dan perasaan Melati bisa memengaruhi kalian sebagai pembaca.

Komentar
Posting Komentar