Kalau kalian seorang pekerja kantoran, pasti pernah mengalami kegelisahan-kegelisahan yang bikin
susah tidur. Dimulai dari nggak punya kehidupan sosial karena terlalu sibuk kerja, belum dipromosikan
padahal sudah kerja bertahun-tahun, atasan yang tingkahnya bikin kita menyebut nama Tuhan
terus-menerus, sampai belum ketemu jodoh padahal usia terus bertambah.
Keresahan-keresahan yang dialami kita ternyata dirasakan seluruh budak korporat di dunia. "Set It Up", film romantis yang mengambil latar dunia perkantoran, juga mengangkat masalah ini. Diambil dari sudut pandang dua orang asisten bos, "Set It Up" cocok banget jadi penghibur sekaligus bikin kita berpikir ulang tentang tujuan hidup.
Sinopsis "Set It Up"
Harper adalah seorang asisten dari editor media olahraga. Selama bertahun-tahun kerja, Harper berharap bisa dapat kesempatan untuk menulis artikel tentang olahraga. Namun, pekerjaan Harper sebagai asisten membuatnya tidak memiliki waktu untuk meraih cita-citanya. Apalagi, atasan Harper adalah seorang perempuan yang gila kerja.
Suatu hari, Harper bertemu Charlie–seorang asisten yang memiliki nasib seperti dirinya. Bos mereka sama-sama workaholic sehingga kehidupan mereka menjadi kacau. Karena mereka tidak ingin memiliki nasib seperti ini terus-menerus, Harper mengusulkan agar atasannya dengan atasan Charlie dijodohkan. Charlie dan Harper berharap atasan mereka nggak terlalu gila bekerja setelah memiliki kekasih.
Rencana Harper dan Charlie awalnya berjalan mulus. Tapi, kemudian Harper menemukan satu hal yang membuatnya ragu untuk menjalankan misi ini.
Plot Ringan Bikin Gemas
"Set It Up" adalah salah satu film romantis yang ringan dan kadang bikin ketawa. Konfliknya nggak berat tapi berhasil bikin penasaran sampai akhir. Karena mengambil latar kantoran dan diambil dari sudut pandang budak korporat, film ini terasa relate dengan kehidupan anak muda yang mendedikasikan diri untuk bekerja.
Hal yang paling aku suka dari film ini adalah dinamika hubungan Charlie dan Harper. Nggak seperti film romantis lain yang sedikit-sedikit ciuman dan adegan ranjang, film "Set It Up" menunjukkan hubungan Charlie dan Harper yang perlahan tapi pasti. Awalnya, Harper dan Charlie cuma dua orang yang menginginkan hal yang sama. Lama-kelamaan, Harper merasakan sesuatu yang spesial dari Charlie begitu pun sebaliknya.
Ide yang Segar
Selama beberapa tahun terakhir, aku tertarik dengan kisah office romance baik itu di film ataupun novel. Sayangnya, aku cukup sering menemukan kisah office romance yang
begitu-begitu saja. Umumnya kisah cinta tersebut terjadi antara atasan dengan bawahan, mulai dari
partner one night stand yang ternyata adalah atasan, atasan baru yang “unik”, dan lainnya. Namun,
saat menonton ini aku merasa ada angin segar. Kisah office romance yang identik dengan hubungan
atasan dan bawahan terasa lebih menarik karena berasal dari dua orang dengan posisi dan masalah
yang sama.
Selain itu, apa yang dilakukan oleh Harper dan Charlie cukup out of the box. Tindakan menjodohkan kedua atasan dari perusahaan berbeda itu lucu, berisiko, dan berhasil bikin aku sebagai penonton ikut berdebar. Makanya, aku bisa mengatakan kalau film “Set It Up” ini adalah angin segar di antara lautan kisah office romance.
Kita Selalu Mencari Alasan Untuk Tidak Mencoba
Di antara semua adegan dalam film “Set It Up”, ada satu bagian yang berhasil membuatku tertegun cukup lama, yaitu adegan ketika Harper sadar kalau ia tidak bisa meraih cita-citanya sebagai penulis artikel olahraga karena dirinya sendiri.
Di film, Harper digambarkan sebagai sosok asisten yang sangat sibuk. Karena kesibukannya, Harper sering menjadikan alasan itu untuk tidak menulis. Akibatnya, selama bertahun-tahun menjadi asisten ia tidak pernah menuliskan satu artikel pun. Pada satu titik, Harper sadar kalau ia tidak bisa menunggu agar keinginannya tercapai. Harper harus “membuat keajaiban”, salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Apa yang Harper lakukan selama ini pasti sering dialami oleh teman-teman khususnya yang ingin menjadi penulis–entah itu penulis blog, artikel, atau novel. Kadang, kita merasa terlalu sibuk sehingga selalu beralasan tidak punya waktu untuk menulis. Namun, di sisi lain kita terus mengeluh tentang cita-cita menjadi penulis yang tidak tercapai. Pertanyaannya adalah, apakah benar kita yang terlalu sibuk atau kita yang tidak meluangkan waktu untuk menulis?
Secara keseluruhan, aku suka dengan film “Set It Up”. Film ini bukan hanya membahas masalah
percintaan, tapi juga sudut pandang seorang asisten yang memiliki cita-cita sebagai penulis.
Keresahan-keresahan kedua tokoh utama relate banget dengan para pekerja kantoran khususnya
yang masih muda. Recommended untuk kamu yang suka kisah office romance!



Komentar
Posting Komentar